Setelah melakukan musyawarah tingkat tinggi, akhirnya Rasulullah saw memutuskan untuk menyongsong musuh di medan Uhud. Walaupun pendapat itu bertentangan dengan usul beliau, tetapi karena didukung sebagian besar para sahabat, akhirnya Rasulullah saw memutuskan keluar dari kota Madinah. Se¬kitar 1000 tentara menyertai beliau. Hanya sera¬tus orang yang menggunakan baju besi dan lima puluh orang menggunakan kuda. Sebagian be¬sar dari tentara itu, terdiri dari prajurit mudayang memang sejak perang Badar, sudah menanti¬nantikan perintah perang. Dengan pedang terhunus di tangan, Hamzah bin Abdul Muthalib bersumpah, "Wahai Rasulullah saw, demi Allah yang telah menurunkan kitab suci kepada Anda, aku tidak akan makan sebelum menguliti mere¬ka (musuh-musuh Islam) dengan pedangku ini di luar Madinah."
Beberapa sahabat yunior pun berlomba ingin ikut perang, seperti Abdullah bin Umar, Usamah bin Zaid, Zaid bin Tsabit dan beberapa sahabat lainnya. Karena usia mereka belum dewasa, Rasulullah saw terpaksa menolak ke¬inginan suci itu. Sebelumnya, Rasulullah saw sempat menyampaikan mimpinya, "Demi Allah, sungguh aku telah bermimpi baik. Aku melihat sapi disembelih, mata pedangku sumbing, dan aku memasukkan tanganku ke dalam baju besi."
Rasulullah saw menakwilkan sapi dengan sekelompok sahabatnya yang terbunuh, sum¬bing mata pedangnya ditakwilkan dengan salah seorang keluarga yang terluka, dan baju besi, beliau takwilkan dengan Madinah.
Melihat hat itu, beberapa sahabat yang me-rasa telah 'memaksa' Rasulullah saw keluar dari Madinah, menyesali tindakan mereka. Mereka menghampiri Rasulullah saw seraya berkata, "Wahai Rasulullah saw, kami tidak akan menya¬lahkanmu. Lakukanlah apa yang Anda kehen¬daki. Jika Anda menginginkan tetap di Madinah, lakukanlah."
Namun, Rasulullah saw segera berkata, "Ba¬gi seorang nabi, kalau sudah menggunakan baju besi, tidak patut melepaskannya, sampai Allah memberikan keputusan antara dia dan musuhnya," (HR Ahmad).
Setelah mengatur posisi dan memeriksa pasukannya, Rasulullah saw segera mem¬berangkatkan mereka. Menjelang fajar tentara kaum muslimin tiba di Syauth. Tempat ini tak jauh dari lokasi penempatan pasukan musuh, sehingga mereka bisa saling pandang. Di sini¬lah Abdullah bin Ubay melakukan pembelotan. Sekitar sepertiga dari jumlah pasukan berhasil is ajak. Alasannya, Rasulullah saw tidak menye¬tujui pendapat mereka yang ingin tetap berada di Madinah.
Akibat pembelotan ini, jumlah kaum muslimin tinggal tujuh ratus orang. Rasulullah saw segera meneruskan perjalanan, dan menempatkan pasukannya di Udwatul Wadi, salah satu lereng gunung Uhud. Rasulullah saw memposisikan perkemahannya sedemikian rupa sehingga Madinah berada di hadapan dan bukit Uhud berada di belakang sebagai tameng agar musuh tidak bisa menyerang dari belakang. Dengan demikian, pasukan musuh menjadi pemisah antara kaum muslimin dan Madinah.
Akhirnya, dengan strategi yang canggih, dampak pembelotan kaum munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay berhasil diatasi. Walaupun jumlah kaum muslimin jauh lebih sedikit dibanding kekuatan lawan, tapi keme-. nangan akan tetap berada di tangan mereka kalau saja pasukan panah tidak teledor dengan melupakan pesan Rasulullah saw agar tetap berada di tempat mereka walau apa pun yang terjadi.
Di antara pelajaran penting yang bisa kita petik dari kisah di atas, bahwa dalam sebuah perjuangan, bahaya orang munafik jauh lebih besar ketimbang ancaman musuh yang terlihat nyata. Bahaya musang berbulu domba ini tak bisa diperkirakan lantaran sikap mereka yang tidak konsisten. Tindak tanduk mereka tidak bisa dibaca karena berdasarkan ambisi.
Musuh abadi terbesar kaum muslimin bernama Yahudi yang sekarang mengendaiikan Amerika, memiliki sifat ini. Sikap mereka tak bisa dibaca dan tidak bisa dipercaya. Tindak tanduk mereka selalu berdasarkan ambisi dan ketamakan. Ketika pemerintah Indonesia menerapkan Undang-undang Anti Subversif, AS menentang dengan alasan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Kala itu Amerika berkepentingan untuk membuat Indonesia bergejolak.
Namun, pada decade selanjutnya, AS sendiri yang mencanangkan kepada dunia untuk membuat dan menetapkan Undang-Undang Anti Terorisme yang jelas-jelas lebih kejam dan berbahaya daripada Undang-Undang Anti Subversif yang pernah ada di Indonesia. Sikap inilah yang ditunjukkan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, dedengkot kaum munafik. Ketika merasa mempunyai kepentingan dengan Rasulullah saw, dia bermuka manis. Namun, kalau kepentingannya terganggu atau jiwanya terancam, sang munafik ini akan menampakkan belangnya sebagai mana pembelotan yang dia lakukan sebelum meletus perang Uhud.
Ciri musang berbulu domba ini, tak hanya terlihat dari sikap mereka yang tidak konsisten, tapi juga nampak pada tindak tanduk pergaulan mereka. Di antaranya, selalu bekerja sama dengan orang kafir. Allah SWT menggambarkan sikap mereka ini dalam firman-Nya, "(Orang munafik) adalah mereka yang menjadikan or¬ang-orang kafir sebagai penolong dengan
meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang-orang kafir itu? Sesungguhnya semua kekuatan hanyalah milik Allah," (QS an-Nisaa: 143).
Untuk mewujudkan ambisi mereka, biasanya orang munafik akan melakukan apa saja, termasuk melarang jihad. Pembelotan Abdullah bin Ubay dan gengnya menjelang perang Uhud, bukan hanya karena kepengecutan, tapi juga keengganan mereka melaksanakan jihad.
Pada masa sekarang kelompok anti jihad semakin berani menunjukkan jati dirinya. Makna jihad mereka salah gunakan. Kalau berkaitan dengan peperangan, makna jihad mereka pelintir dengan mengatakan bahwa makna jihad itu lugs, tidak semata berperang. Namun, kalau diminta ikut berjihad
membasmi kemunkaran, mereka berdalih bahwa jihad itu semata untuk mela
wan orang kafir.
Karenanya, keberadaan kelompok masyarakat yang berusaha melaksanakan nahyi munkar dengan cara membasmi tempat-tempat maksiat, harus dinilai positif. Hanya saja, jangan sampai pelaksanaan tindakan itu, tidak taktis dan malah ditunggangi orang-orang munafik. Mereka sengaja memberikan dukungan, tapi pada saat¬nya nanti berada di garda terdepan untuk meng¬hancurkan umat Islam. Jangan sampai kasus `tiup balon' yang dulu dimainkan, kini dipraktikkan lagi. Mereka sengaja memelihara dan meng¬gelembungkan kelompok Islam tertentu, dan meledakkannya bila saatnya tepat. Jangan sam¬pai kita terjerumus ke dalam lubang yang sama dua kali dan menjadi mangsa musang berbulu domba. Kalau tidak, kita akan menjadi orang yang lebih bodoh dari keledai. Sebab, keledai saja tak mau jatuh ke lubang yang sama dua kali. Apalagi manusia, mestinya.
Oleh : Hepi AndiBeberapa sahabat yunior pun berlomba ingin ikut perang, seperti Abdullah bin Umar, Usamah bin Zaid, Zaid bin Tsabit dan beberapa sahabat lainnya. Karena usia mereka belum dewasa, Rasulullah saw terpaksa menolak ke¬inginan suci itu. Sebelumnya, Rasulullah saw sempat menyampaikan mimpinya, "Demi Allah, sungguh aku telah bermimpi baik. Aku melihat sapi disembelih, mata pedangku sumbing, dan aku memasukkan tanganku ke dalam baju besi."
Rasulullah saw menakwilkan sapi dengan sekelompok sahabatnya yang terbunuh, sum¬bing mata pedangnya ditakwilkan dengan salah seorang keluarga yang terluka, dan baju besi, beliau takwilkan dengan Madinah.
Melihat hat itu, beberapa sahabat yang me-rasa telah 'memaksa' Rasulullah saw keluar dari Madinah, menyesali tindakan mereka. Mereka menghampiri Rasulullah saw seraya berkata, "Wahai Rasulullah saw, kami tidak akan menya¬lahkanmu. Lakukanlah apa yang Anda kehen¬daki. Jika Anda menginginkan tetap di Madinah, lakukanlah."
Namun, Rasulullah saw segera berkata, "Ba¬gi seorang nabi, kalau sudah menggunakan baju besi, tidak patut melepaskannya, sampai Allah memberikan keputusan antara dia dan musuhnya," (HR Ahmad).
Setelah mengatur posisi dan memeriksa pasukannya, Rasulullah saw segera mem¬berangkatkan mereka. Menjelang fajar tentara kaum muslimin tiba di Syauth. Tempat ini tak jauh dari lokasi penempatan pasukan musuh, sehingga mereka bisa saling pandang. Di sini¬lah Abdullah bin Ubay melakukan pembelotan. Sekitar sepertiga dari jumlah pasukan berhasil is ajak. Alasannya, Rasulullah saw tidak menye¬tujui pendapat mereka yang ingin tetap berada di Madinah.
Akibat pembelotan ini, jumlah kaum muslimin tinggal tujuh ratus orang. Rasulullah saw segera meneruskan perjalanan, dan menempatkan pasukannya di Udwatul Wadi, salah satu lereng gunung Uhud. Rasulullah saw memposisikan perkemahannya sedemikian rupa sehingga Madinah berada di hadapan dan bukit Uhud berada di belakang sebagai tameng agar musuh tidak bisa menyerang dari belakang. Dengan demikian, pasukan musuh menjadi pemisah antara kaum muslimin dan Madinah.
Akhirnya, dengan strategi yang canggih, dampak pembelotan kaum munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay berhasil diatasi. Walaupun jumlah kaum muslimin jauh lebih sedikit dibanding kekuatan lawan, tapi keme-. nangan akan tetap berada di tangan mereka kalau saja pasukan panah tidak teledor dengan melupakan pesan Rasulullah saw agar tetap berada di tempat mereka walau apa pun yang terjadi.
Di antara pelajaran penting yang bisa kita petik dari kisah di atas, bahwa dalam sebuah perjuangan, bahaya orang munafik jauh lebih besar ketimbang ancaman musuh yang terlihat nyata. Bahaya musang berbulu domba ini tak bisa diperkirakan lantaran sikap mereka yang tidak konsisten. Tindak tanduk mereka tidak bisa dibaca karena berdasarkan ambisi.
Musuh abadi terbesar kaum muslimin bernama Yahudi yang sekarang mengendaiikan Amerika, memiliki sifat ini. Sikap mereka tak bisa dibaca dan tidak bisa dipercaya. Tindak tanduk mereka selalu berdasarkan ambisi dan ketamakan. Ketika pemerintah Indonesia menerapkan Undang-undang Anti Subversif, AS menentang dengan alasan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Kala itu Amerika berkepentingan untuk membuat Indonesia bergejolak.
Namun, pada decade selanjutnya, AS sendiri yang mencanangkan kepada dunia untuk membuat dan menetapkan Undang-Undang Anti Terorisme yang jelas-jelas lebih kejam dan berbahaya daripada Undang-Undang Anti Subversif yang pernah ada di Indonesia. Sikap inilah yang ditunjukkan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, dedengkot kaum munafik. Ketika merasa mempunyai kepentingan dengan Rasulullah saw, dia bermuka manis. Namun, kalau kepentingannya terganggu atau jiwanya terancam, sang munafik ini akan menampakkan belangnya sebagai mana pembelotan yang dia lakukan sebelum meletus perang Uhud.
Ciri musang berbulu domba ini, tak hanya terlihat dari sikap mereka yang tidak konsisten, tapi juga nampak pada tindak tanduk pergaulan mereka. Di antaranya, selalu bekerja sama dengan orang kafir. Allah SWT menggambarkan sikap mereka ini dalam firman-Nya, "(Orang munafik) adalah mereka yang menjadikan or¬ang-orang kafir sebagai penolong dengan
meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang-orang kafir itu? Sesungguhnya semua kekuatan hanyalah milik Allah," (QS an-Nisaa: 143).
Untuk mewujudkan ambisi mereka, biasanya orang munafik akan melakukan apa saja, termasuk melarang jihad. Pembelotan Abdullah bin Ubay dan gengnya menjelang perang Uhud, bukan hanya karena kepengecutan, tapi juga keengganan mereka melaksanakan jihad.
Pada masa sekarang kelompok anti jihad semakin berani menunjukkan jati dirinya. Makna jihad mereka salah gunakan. Kalau berkaitan dengan peperangan, makna jihad mereka pelintir dengan mengatakan bahwa makna jihad itu lugs, tidak semata berperang. Namun, kalau diminta ikut berjihad
membasmi kemunkaran, mereka berdalih bahwa jihad itu semata untuk mela
wan orang kafir.
Karenanya, keberadaan kelompok masyarakat yang berusaha melaksanakan nahyi munkar dengan cara membasmi tempat-tempat maksiat, harus dinilai positif. Hanya saja, jangan sampai pelaksanaan tindakan itu, tidak taktis dan malah ditunggangi orang-orang munafik. Mereka sengaja memberikan dukungan, tapi pada saat¬nya nanti berada di garda terdepan untuk meng¬hancurkan umat Islam. Jangan sampai kasus `tiup balon' yang dulu dimainkan, kini dipraktikkan lagi. Mereka sengaja memelihara dan meng¬gelembungkan kelompok Islam tertentu, dan meledakkannya bila saatnya tepat. Jangan sam¬pai kita terjerumus ke dalam lubang yang sama dua kali dan menjadi mangsa musang berbulu domba. Kalau tidak, kita akan menjadi orang yang lebih bodoh dari keledai. Sebab, keledai saja tak mau jatuh ke lubang yang sama dua kali. Apalagi manusia, mestinya.
Sabili No. 08 Th x 31 Oktober 2002/24Syaban 1423
Selengkapnya..
